Hinca: Indonesia Darurat Narkoba itu Fakta, Demokrat Akan Bantu BNN

JAKARTA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat Hinca IP Pandjaitan menyatakan saat ini bangsa Indonesia sudah dalam kondisi darurat narkoba. Dia berkomitmen membantu Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memberikan solusi agar Indonesia bebas dari narkoba.

"Indonesia darurat narkoba itu fakta. BNN kau tidak sendirian. Demokrat akan membantu, peduli dan memberikan solusi," kata Hinca pada saat diskusi soal bahaya narkoba, di Gedung DPP Demokrat, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (20/10).

Hinca mengaku sudah bertemu dengan Kepala BNN Budi Waseso dan memberikan semangat untuk memberantas narkoba di Indonesia.

"Saya bertemu dengan bang Budi Waseso 7 hari setelah dilantik jadi Kepala BNN. Beliau matanya berkaca-kaca. Saya katakan, Bang Budi Waseso tidak sendirian berantas narkoba," ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Pencegahan BNN, Antar MT Sianturi mengatakan, pengguna narkoba di Jakarta mencapai 5 persen. Dia menekankan bahwa sama sekali tidak ada untungnya memakai narkoba.

"Pengguna narkoba hampir pasti tingkat meninggalnya lebih cepat, lebih baik nggak usah pakai lah. Ada lagi stimulan, pakai sabu. Efeknya sebentar, habis selesai loyo," jelas Antar.

Indonesia dinilai menjadi 'lahan basah' untuk para bandar narkoba. Karena konsumen obat terlarang tersebut peminatnya tinggi.

"Yang bahaya Indonesia jadi perederan narkoba, karena pemakai cukup besar di sini, makanya jadi incaran bandar. Kenapa darurat narkoba, karena pemakai di Indonesia 4 juta jiwa, sama seperti penduduk Singapura," imbuhnya.

Transaksi narkoba juga bisa dilakukan di dalam sel penjara dan menggunakan teknologi canggih karena para bandar punya banyak uang. "70 persen pengedaran narkoba dikendalikan dari dalam penjara. Di LP Cipinang mereka itu di dinding-dinding punya peralatan langsung ke satelit untuk mengendalikan peredaran narkoba. Duitnya tak terhitung," paparnya.

Antar juga berpesan kepada generasi penerus bangsa Indonesia agar menjauhi narkoba dan jangan tergiur dengan iming-iming uang yang banyak. "862 kilogram sabu itu duitnya Rp 1,7 triliun. Tapi jangan tergiur jadi pengedar," tegas Antar. [merdeka/rhm]
Share on Google Plus
    Komentar Google
    Komentar Facebook