Dedi Mulyadi Akan Terapkan Program Cetak Siswa Miskin Jadi Manajer di Jabar


BEKASI
- Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, program pendidikan vokasional berkarakter selama memimpin di Purwakarta akan diterapkan di Jawa Barat.

Salah satunya adalah sekolah setara SMK untuk mendidik siswa miskin menjadi manajer. Sekolah kejuruan tersebut bekerja sama dengan perusahaan industri seperti yang telah berjalan di Purwakarta selama ini.

Dedi pun beberapa kali menekankan pentingnya pendidikan vokasional untuk anak-anak di Jawa Barat. Apalagi, programnya tersebut akan mencetak sumber daya manusia yang handal dan sesuai dengan spesifikasi keahlian yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut.

"Jadi nanti sudah lulus langsung kerja. Program ini saya bukan hanya ngomong saja, saya sudah buktikan berhasil selama saya memimpin Purwakarta dua periode. Ini ide original saya untuk membantu warga tak mampu dicetak menjadi seorang manajer bekerja sama dengan industri," ungkap Dedi, kepada wartawan, Kamis (19/4/2018).

Rabu kemarin, Dedi pun menyampaikan gagasan pendidikannya di hadapan para pengusaha industri dalam acara dialog di President University, Kawasan Industri Jababeka, Kabupaten Bekasi.

Dedi pun berulang kali menyampaikan bahwa pelajar SMK sebetulnya tidak memerlukan materi teori yang banyak. Mereka lebih membutuhkan pelajaran aplikatif karena akan menggunakan berbagai piranti produk teknologi di sektor industri.

“Nanti siswa belajar teorinya cukup satu semester. Sisanya, mereka praktik langsung di perusahaan. Jadi, industri tidak perlu mencari SDM ke daerah lain saat membutuhkan sumber daya manusia untuk perusahaannya,” katanya.

Pendidikan vokasional bukan barang baru bagi ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat tersebut. Saat menjabat sebagai bupati Purwakarta, Dedi menerapkan pola pendidikan itu.

Sebanyak dua kali dalam satu bulan, pelajar di seluruh tingkatan di Purwakarta tidak belajar di dalam kelas. Mereka membantu pekerjaan orang tua masing-masing di tempat kerjanya.

Bukan hanya itu, pelajar di SMK dan Sekolah Tinggi Industri di Purwakarta dibekali pendidikan sistem manajerial perusahaan. Saat lulus, mereka sudah mampu memahami dan siap menerapkan sistem tersebut di perusahaan tempat mereka bekerja.

“Nah, karena itu di industri harus ada universitas minimal sampai D3. Mereka diajarkan bagaimana menjadi manajer. Ini orientasi pendidikan vokasional, karena itu harus mampu melahirkan manajer andal,” ucapnya.

Menurutnya, perusahaan di Indonesia terutama yang berbasis modal asing, lebih banyak mempekerjakan warga Indonesia pada tingkatan low management.

Sedikit saja dari perusahaan tersebut yang menempatkan warga Indonesia pada posisi manajemen tengah dan atas. Melalui langkah ini, Dedi Mulyadi berharap industri berperan aktif dalam mencetak manajer-manajer kelas menengah dan atas.

“Kalau dalam 1 tahun 100 orang yang lulus, dalam 5 sampai 10 tahun bisa berapa? Pola ini saya terapkan di Purwakarta, dan kini mereka berhasil mengisi posisi strategis di perusahaannya,” kata Dedi. [kompas/ded]
Share on Google Plus
    Komentar Google
    Komentar Facebook