Survey Pilwalkot Sukabumi: Faham Ungguli Pasangan Lain


SUKABUMI - Lembaga survey independen Epistemic Institute menggelar penelitian ke lapangan terkait pilihan warga Kota Sukabumi dalam rangka pemilihan kepala daerah 2018 mendatang.
Lembaga yang dipimpin oleh Wahyu Ginanjar ini melibatkan 20 orang surveyor, menyisir 40 lokasi tempat pemungutan suara (TPS) versi pemilihan legislatif 2014 lalu.
Dari setiap TPS diambil 10 orang terdiri dari lima laki-laki dan lima perempuan sebagai objek survey.
"Orang yang kami survei adalah pemilih pada Pileg 2014 silam, berdasarkan data pemilih tetap (DPT)," jelas Wahyu saat berkunjung ke ruang redaksi sukabumiupdate.com, Rabu (28/2/2018).
Survey dilakukan pada 19 hingga 25 Februari 2018, mengambil sampel 400 responden dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.
"Margin error kurang lebih 4,9 persen. Kami menggunakan metode sampling, multi stage ramdom sampling. Terpenting survey ini kami persembahkan untuk demokrasi di Kota Sukabumi. Insya Allah kami masih independen," lanjut pria yang pernah menjabat sebagai ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sukabumi periode 2015-2016 ini.
Ada enam nama figur yang diajukan kepada responden, sesuai ketetapan KPU tentang calon walikota dan calon wakil walikota kontestan pilkada 2018 mendatang.
"Ada data tingkat popularitas figur, tingkat kesukaan figur dan yang paling hot adalah elektabilitas pasangan calon walikota dan wakil walikota yang sekarang bertarung saat ini," tambah Wahyu.
Pertanyaan untuk mengukur empat pasangan calon ini adalah jika hari ini dilaksanakan Pilkada Kota Sukabumi, pasangan mana yang akan bapak atau ibu pilih? 5,27 persen responden menjawab tidak tahu atau belum menentukan pilihan.
Hasil survey Epistemic Institute untuk elektabilitas, paslon di pilkada Kota Sukabumi 2018 nomor urut 1 (sesuai nomor urut KPU-red) mendapatkan 14,25 persen.
Paslon nomor 2 meraup 42,00 persen dukungan responden, paslon nomor urut tiga 32,00 persen dan paslon nomor urut empat hanya 6,50 persen.
"Hasil survei elektabilitas kami, pasangan Faham masih memimpin, disusul Mulia, Ijabah dan Dermawan," jelas Wahyu lebih jauh.
Epistemic Institute juga mendapatkan data bahwa 63 persen respondennya masih menyatakan bisa merubah pilihan terkait siapa paslon yang akan dicoblos pada pilkada serentak 27 Juni 2018 mendatang.
"Artinya semua masih memilih peluang untuk naik dan turun, masa kampanye masih panjang ada tiga bulan lebih menuju hari pencoblosan," tutup Wahyu. [sukabumiupdate/ded]
Share on Google Plus
    Komentar Google
    Komentar Facebook