Petani Bekasi Terharu Lihat Dedi Mulyadi Lihai Sabit Padi


BEKASI
– Petani yang tengah memanen padi di Desa Karang Mekar, Kecamatan Kedung Waringin, Kabupaten Bekasi tercengang melihat aksi Cawagub Jabar nomor urut 4 Dedi Mulyadi, Selasa (6/3). Di hadapan petani, Dedi Mulyadi menunjukkan aksinya dalam menyabit padi. 

Bahkan, kepada para petani di area sawah Desa Karang Mekar, Dedi Mulyadi sempat bercanda menantang adu tanding menyabit padi. Kebetulan di area sawah itu sedang berlangsung panen raya. ‘’Saya baru tahu, ada pejabat yang pandai motong padi. Ini sih petani beneran, cekatan dan sabitannya rapi,’’ kata Bejo (56 tahun), salah seorang petani Desa Karang Mekar, Selasa (6/3).

Melihat kelihaian tingkah pasangan Deddy Mizwar di Pilgub Jabar itu, Bejo dan petani lainnya tampak menggeleng-gelengkan kepala. Kawan-kawan Bejo kemudian berkumpul untuk melihat tata cara Dedi Mulyadi menyabit padi.

‘’Wah, petani di sini bisa kalah sama Pak Dedi. Ini mah beneran nyabit padi, bukan pura-pura nyabit padi,’’ kata Dadan (71), petani Desa Karang Mekar.

Usai pertunjukan sabit padi, Dedi Mulyadi dan para petani menjalin dialog. Kepada Dedi Mulyadi, para buruh tani itu memyampaikan keluh kesahnya. Rata-rata mereka mengeluhkan sistem pengupahan yang menggunakan uang. Zaman dahulu, biasanya buruh tani mendapat upah berupa bagi hasil panen.

Petani bernama Acim (45) mengutarakan, kalaupun masih ada tuan tanah yang menggunakan sistem upah berupa bagi hasil panen, jumlahnya sangat tidak sebanding. Dari tujuh Kilogram hasil panen padi yang dikelola buruh tani, kata dia, buruh tani hanya mendapatkan upah sebanyak satu Kg saja. ‘’Perbandingannya 1 : 7 Pak. Tapi kebanyakan pakai upah uang,’’ keluh Acim kepada Dedi Mulyadi.

Sehabis mendengarkan sejumlah keluhan petani, Dedi Mulyadi mengaku prihatin atas kondisi yang menimpa para buruh tani. ‘’Bayangkan, setiap hari mereka pegang beras tetapi susah mendapatkan beras,’’ ujar Dedi.

Dedi yang pengalaman mudanya sempat bertani menyampaikan sejumlah solusi atas permasalahan para buruh tani. Menurut dia, harus ada asuransi untuk buruh tani, berupa asuransi kecelakaan kerja dan asuransi tanaman padi.

‘’Kalau mereka dipatok ular atau kecelakaan di sawah, siapa yang mau mengobati? Kalau tidak ada asuransi,’’ tambahnya. Selanjutnya, imbuh dia, kalau padinya tidak diasuransikan, maka buruh tani terancam tidak mendapatkan penghasilan.

Akibatnya, kata Dedi, petani bisa jatuh miskin. Kesehatan para buruh tanipun, tegas Dedi, wajib diperhatikan. Dia mengatakan, program satu dokter satu desa bisa menjadi solusi bagi kesehatan petani.

‘’Anggarannya cukup kok dari provinsi. Kalau kurang, ya dibantu via APBD kabupaten/kota masing-masing. Kita harus sinergis untuk keberlangsungan hidup para buruh tani,’’ tandasnya. [republika/ded]
Share on Google Plus
    Komentar Google
    Komentar Facebook