Di Purakarta SBY Bersilaturahmi dengan Jama'ah Majelis Taklim


PURWAKARTA
 – Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersilaturahmi dengan jemaah majelis taklim se-Kabupaten Purwakarta di Desa Sukamulya, Purwakarta, Jawa Barat (Jabar), Selasa (20/3). Pada kesempatan itu, SBY ditanya berbagai hal, seperti upaya meningkatkan peran majelis taklim, memajukan usaha mikro kecil menengah (UMKM), pembinaan atlet olahraga, dan nasib guru honorer.
“Peran majelis taklim ini sangat penting. Mengapa? Sebagai umat beragama, khususnya umat Islam, maka kita harus menjalankan ajaran Islam yang benar, menjalankan firman Allah, hadis rasulullah dan nasihat-nasihat ulama,” kata SBY menjawab pertanyaan Ketua RW daerah tersebut, Nining.
Menurutnya, majelis taklim merupakan kegiatan tukar menukar pikiran agar umat Islam senantiasa beribadah. Dengan saling bertemu, lanjutnya, pasti yang disampaikan ialah kebaikan-kebaikan. “Bagaimana sebagai umat Islam kita bisa mencontoh sifat nabi kita, Muhammad SAW,” ujarnya.
Ditambahkan, Nabi Muhammad pemimpin agung yang memiliki karakter luar biasa. Terdapat empat sifat nabi Muhammad, yaitu shiddiq (benar), amanah (bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan), danfathanah (cerdas). “Nabi itu jujur, menyampaikan berita benar, bukan fitnah dan hoax. Mengajarkan kepada kita Islam yang damai, menjaga kerukunan dan persaudaraan,” ungkap Presiden RI keenam ini.
Sementara itu, pelaku UMKM, Rimba Sri Wahyuni menanyakan pandangan SBY untuk mengembangkan UMKM, sehingga berhasil tingkat nasional sampai internasional. Ditegaskan SBY, UMKM itu sangat penting. “Kalau yang menggerakkan ekonomi kita hanya pengusaha-pengusaha besar, konglomerat di kota besar, siapa yang menggerakkan ekonomi kerakyatan? Siapa yang memperhatikan nasib saudara kita di pelosok negeri?” ujar SBY.
Dia menuturkan, seluruh UMKM, para pedagang kaki lima jika dihidupkan akan berkembang. Penghasilan semakin baik dan orang yang menganggur bekerja. Melalui pekerjaan, ucapnya, kebutuhan sehari-hari tercukupi. “Saya dulu memajukan koperasi dan UMKM. Jadi prioritas, jumlahnya jutaan dan terus dikembangkan. Kini saya dengar ada 60 juta rakyat katanya mengalami kesulitan, harga sembako naik, daya beli kurang dan sebagainya,” tuturnya.
Oleh karena itu, dia berharap pemerintah menaruh perhatian serius terhadap pengembangan UMKM. Misalnya, membantu memberikan fasilitas modal. “Negara dan pemerintah wajib membantu UMKM. Kalau sudah dibantu, tolok dikelola dengan baik supaya berkembang,” tegasnya.
Sedangkan, pengurus Federasi Olahraga Karate Do Indonesia (Forki) Purwakarta, Rahmat Suryanadi juga meminta pemikiran SBY, cara menciptakan atlet profesional. SBY menjelaskan, memajukan dunia olahraga Tanah Air, termasuk karate, memerlukan dukungan semua kalangan.
Mulai pemerintah pusat, pemerintah daerah, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di daerah hingga perusahaan-perusahaan dan masyarakat luas. Apabila semuanya bersatu padu, SBY optimistis olahraga Indonesia menghasilkan atlet berkualitas dan berprestasi. “Saya harap Presiden Jokowi membina olaharaga. Memberi bantuan. Dengan demikian bendera merah putih tetap berkibar,” ujarnya.
Salah satu guru honorer sekolah dasar negeri (SDN) di Purwakarta, Susilawati menanyakan sikap yang mesti diambilnya agar guru honorer mempunyai kesejahteraan yang layak. Sempat terjadi sedikit dialog antara SBY dengan Susilawati.
“Sudah berapa lama menjadi guru honorer?” tanya SBY kepada Susilawati.
“Kurang lebih enam tahun Pak,” jawab Susilawati.
“Berapa honor sekarang,” SBY kembali bertanya.
“Sekitar Rp 700.000,” ucap Susilawati.
SBY menuturkan, kesejahteraan guru, pegawai TNI dan Polri, buruh, petani dan nelayan ketika dirinya memimpin Indonesia begitu diperhatikan. Hampir setiap tahun, menurutnya, ada peningkatan gaji. “Mungkin ibu-ibu tak percaya, selama 10 tahun saya menjadi presiden, gaji saya tidak naik. Saya sendiri yang memutuskan. Bagi saya, lebih penting menaikkan gaji-gaji guru, PNS, TNI dan Polri,” tuturnya. [beritasatu/ded]
Share on Google Plus
    Komentar Google
    Komentar Facebook