Cellica Jawab Keluhan Buruh dan Petani di Rapimnas Partai Demokrat


KARAWANG
- Saat Rapimnas hari kedua, Partai Demokrat menggelar diskusi bertemakan “Rakyat Beraspirasi, Demokrat Beri Solusi”. Ribuan kader Partai Demokrat nampak memadati Sentul International Convention Centre (SICC), Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/03/2018).
Partai Demokrat sengaja mengundang masyarakat dari berbagai kalangan untuk menyampaikan unek-unek dan aspirasi.
Diskusi dipimpin oleh Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan berlangsung amat hidup. Mulai dari perwakilan buruh, petani, bidan, atlet hingga pemuka agama tak sungkan membeberkan masalah mereka. Masing-masing menyampaikan aspirasi dan dijawab langsung oleh jajaran pengurus Partai Demokrat.
Salah seorang perwakilan buruh Amrizal, terlihat aktif menyampaikan aspirasi. Di hadapan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan ribuan massa kader Partai Demokrat, Amrizal mengeluhkan upah murah, beban kerja outsourching yang berlebihan hingga rekrutmen karyawan yang tidak memihak warga lokal.
Ketua DPC Partai Demokrat Karawang, Cellica Nurrachadiana merespon cepat keluh kesah Amrizal. Sebagai kepala daerah, Cellica membeberkan berbagai kebijakan yang pro buruh. Permasalahan upah murah yang menimpa Amrizal tak terjadi di Karawang.
“Karena Karawang adalah daerah dengan upah tertinggi di Indonesia,” kata Cellica.
Mendengar hal itu, ribuan kader Partai Demokrat nampak bertepuk tangan dengan riuh. Bahkan SBY nampak tersenyum, mengacungkan jempol hingga tepuk tangan sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Ihwal keluhan Amrizal mengenai rektutmen karyawan yang tak adil, Cellica juga mempunyai solusinya. Bahkan persoalan itu telah dijawab Cellica 2 tahun lalu. Pada 2016, bupati perempuan pertama di Karawang itu telah meneken Perda Nomor 1 tahun 2016 tentang Ketenagakerjaan.
“2.500 perusahaan di Karawang wajib mempekerjakan 60 persen tenaga kerja warga Karawang dan 40 persen untuk luar Kabupaten Karawang,” tegas dia.
Cellica juga menjawab dengan lugas aspirasi perwakilan petani yang mengeluhkan persoalan pangan. Petani itu sadar betul, kebijakan impor beras sangat merugikan petani Indonesia. Belum lagi berbagai kendala teknis seperti harga beras yang murah saat musim hujan karena gabah petani yang basah.
“Bayangkan ada gabah dari petani dihargai Rp 3500 per kilogram. Ini tentu sangat memukul petani. Padahal harga aman bagi petani adalah Rp 4500 per kilogram,” tuturnya.
Untuk dua masalah ini, Cellica yang juga Bupati Karawang ini mempunyai solusinya. Tahun depan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang bakal menganggarkan anggarakan untuk pembelian dryer atau mesin pengering gabah.
“Dryer mesin pengering akan diberikan untuk setiap 10 -15 ton. Kami mengalokasikan anggaran murni di tahun 2019,” kata Cellica.
“Mesin pengering ini untuk menjaga kualitas gabah, supaya harga tidak terlalu rendah,” jelasnya.
Untuk mensejahterakan petani, Cellica juga sedang memperjuangkan Perda No 1 tahun 2018 dengan legislatif tentang LP2B atau lahan pangan pertanian berkelanjutan. Perda itu melarang alih fungsi di 87 ribu hektare sawah.
“Sampai 2030 alih fungsi lahan tidak boleh melebihi 10 ribu hektare, karena 87 ribu hektar akan jadi sawah abadi. Tidak bisa dialihfungsikan,” tegasnya.
“Kami semua mendengar aspirasi dari masyarakat. Diskusi ini diharapkan bisa memberi solusi supaya ada perubahan sesuai kehendak rakyat,” tuturnya. [spirit/ded]
Share on Google Plus
    Komentar Google
    Komentar Facebook